BR school (of thought)

Class Discussions (in Bahasa Indonesia)

20
Jan
2006

Mengurangi penggunaan plastik

by Budi Rahardjo



Sangat sedih melihat banyaknya penggunaan plastik di Indonesia ini. Yang namanya “tas kresek” digunakan tanpa pikir panjang. Kadang-kadang saya memilih untuk menggabungkan beberapa barang yang dibeli menjadi satu tas saja (tidak minta tas plastik baru atau bahkan menolak). Paling tidak, berkurang 1 tas kresek di Indonesia.

Masih banyak yang lain lagi penggunaan plastik dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti gelas dan botol minuman (air) dalam kemasan. Saya melihat mereka bergelimpangan di jalan, selokan, dan termasuk tempat sampah. Mudah digunakan memang, tapi dampak jangka panjangnya? 

Apakah ada orang yang memikirkan tentang bagaimana mendaur-ulangkan plastik? Apakah sebaiknya kita bakar saja? Atau bagaimana? Ide?

Saya lihat di India (paling tidak, waktu saya numpang liwat di New Delhi), ada program untuk tidak menggunakan plastik pada hari tertentu (Senin?). Jadi, waktu saya beli kain untuk oleh-oleh, mereka dibungkus dengan kertas. Bagus itu. Yuk kita mulai menghemat penggunaan plastik. 



Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)

3 Responses to “Mengurangi penggunaan plastik”

  1.   Antony Pranata Says:

    Kalau yang saya lihat di Jerman, supermarket tidak memberikan plastik secara gratis. Kita harus membawa plastik (atas tas) sendiri dari rumah (yang biasa saya lakukan sewaktu hidup di sana). Alternatif lain, kita bisa juga membeli plastik di supermarket tersebut.
    Tetapi saya rasa cara seperti ini agak susah dipraktekkan di Indonesia…. :(

  2.   Budi Rahardjo Says:

    Jadi bagaimana dong? Mosok kita harus menyerah dengan keadaan seperti ini? Harus ada usaha bersama untuk mengatasi masalah plastik ini. Kalau kita semua menyerah, ya … habislah kita. Ya nggak?

  3.   Renni Suhardi Says:

    Pak Budi,
    sebetulnya sudah ada yang mengumpulkan plastik dan di daur ulang. tapi nampaknya jumlah plastik yang dapat didaur ulang masih jauh lebih kecil dari yang numpuk sebagai limbah.
    Agak susah juga krn kalau di Mall kita tidak minta kresek, tidak boleh karena kreseknya langsung di jepret barengan kwitansi dan barangnya. Takut kalo ditenteng dikira mencuri.
    Mungkin bisa dipikirkan memberi insentif untuk yang mengelola sampahnya sendiri. Insentif tidak harus selalu berupa instant reward, misalnya spt voucher kalo di stempel beberapa kali bisa dapat apa.
    1 stempel untuk 5 atau 10 atau 20 kresek, 5 botol aqua, atau yang lain.
    Nah ini mungkin harus diskusi dengan yang ahli komunikasi, gimana bikin programnya.

    oke Pak Budi, baru ini aja yang kepikir. Mudah2an kalo pas ada ide bisa di share.

    salam
    Renni