BR school (of thought)

Class Discussions (in Bahasa Indonesia)

16
Apr
2006

Belajar Antri

by Budi Rahardjo

Salah satu “kebiasaan Barat?” yang melekat di saya adalah kebiasaan antri. Entah kenapa di Indonesia ini orang tidak bisa antri. Padahal dengan antri proses (pembelian tiket, masuk ke ruangan, dan pelayanan lain) bisa berjalan dengan lebih tertib dan cepat. Mungkin karena orang yang antri melihat bahwa menyerobot dibiarkan, tidak dihukum? Lantas mengapa saya harus antri? Begitu alur berpikirnya, mungkin?

Tadi siang kami naik pesawat (dari Batam ke Bandung). Sebelum masuk ke pesawat instruksinya sudah jelas; “Sekarang kami mempersilahkan penumpang baris ke 15 sampai dengan ke 26 untuk masuk pesawat.” Semua orang lantas berbondong-bondong, termasuk baris sebelum 15! Petugas bandara marah dan meminta orang yang belum gilirannya untuk minggir dulu. Mereka, yang berada di baris sebelum baris ke 15 dan tetap mau duluan ini, seperti tidak merasa bersalah! Aneh juga.

Nampaknya kebiasaan antri ini harus diajarkan sejak kecil. Bagaimana pendapat Anda?



Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)

9 Responses to “Belajar Antri”

  1.   Lili Says:

    Yang harus diajarkan itu harusnya kesabaran, respect dan sadar diri. Kedua hal itu mulai jarang didapat dari generasi muda. Selain tidak mau mengerti kenapa harus antri walaupun sudah sering diajarkan, apa yang ditangkap mereka itu ibarat masuk telinga dan keluar dari telinga satunya alias engga diserap, dipahami dan diterapkan. Lebih baik lagi kalo orang tua bisa mengajarkan ke anaknya untuk tetap sabar meskipun ada orang menyerobot bukan berarti harus balas dendam dengan menyerobot kelak. Toh kalo dicopet kita pasti engga bales nyopet orang lain kelak, kenapa ga bisa lakuin hal yang sama dengan antrian dan menghormati orang lain?
    Disini orang yang engga mau antri biasanya ditegur dan tidak dilayani kecuali saat gilirannya tiba dan teguran itu sudah cukup memalukan orang2 sini. Kadang ada anak sekolahan yang bandel dalam train dan teman saya biasanya menegurnya dan mereka hanya bisa terdiam malu atau minta maaf atas tingkah lakunya karena mereka sadar kalo mereka engga respect orang lain.

  2.   Priyadi Says:

    pengalaman di salah satu airport: kita lagi ngantri untuk boarding, yang boarding ternyata bukan pesawat kita aja, ada 2 pesawat lain yang sedang boarding juga. terus ada seorang ibu2 nanya, mas apa ini pesawat yang ke jakarta? kita jawab ‘betul’. terus si ibu ini enak aja ngantri ke depan kita :)), kita cuma bisa melongo :).

    btw, di kota2 besar(*) kesadaran ngantri sudah lumayan. coba bandingkan di pelosok2, kadang2 untuk ngisi bensin aja susahnya setengah mati :)

    * kota besar = jakarta & bandung

  3.   andriansah Says:

    Mungkin karena antri ini orang singapore jadi jarang senyum (lirik post sebelah) :) karena udah bosen antri HAHAHAHA

    Jangankan di Bandara di pesta perkawinan, kantor samsat, orang tidak mo antri juga. Kalo menurut saya dan yang saya perhatiin, malah orang tua yang tidak mau antri karena (IMHO) mereka udah tua, duluin dong (pengalaman di samsat n pesta minggu kemarin). Sedangkan yang muda2 sudah mulai (sedikit) ngerti, walaupun merekan nyelak ke depan, tapi begitu ngeliat antrian mereka langsung masuk antria, yang tua? cuek kayak bebek di depan.

    Solusi? mungkin harus di kasih tali yang memagari :)

  4.   Budi Rahardjo Says:

    Kalau memang hanya orang yang tua saja yang gak bisa antri, ya kita biarkan saja. Toh nanti mereka bakalan digantikan oleh yang muda-muda. hi hi hi. Bukan ngedoain lho, tapi itu natural.

    Yang menyedihkan adalah kalau yang motong ini adalah anak muda! Bagaimana kita bisa maju kalau masih muda aja udah motong? Nanti kalau udah tua mau didahulukan lagi.

    Jadi? Mari kita ajarkan ke yang muda-muda, anak-anak, bahwa mengantri itu baik. Siapa yang jago bikin banner, button, poster, gambar? Saya mau pasang di web saya. (Sekalian juga banner tentang “buang sampah pada tempatnya” he he he)

  5.   gatut Says:

    Waktu aku kecil, ada pelajaran etiquette (budi pekerti). Dalam pelajaran tersebut cukup menekankan untuk patuh dan banyak mengabaikan ulasan logis. Maka, pelajaran tata krama pun ditinggalkan …

    IMO, ngantri perlu kebersamaan antara IQ (= proses layanan yang efisien) dan EQ (= empati kepada pengantri lain).

  6.   Bagus Says:

    Mungkin ada kaitannya dengan ‘keterbatasan resource’ dan ‘kesempatan’ di negeri ini. Dalam bawah sadar masyarakat kita –CMIIW– mungkin telah terpatri paradigma bahwa ‘kalo gak duluan gak kebagian !’.

  7.   Dedhi Says:

    Saya setuju dengan Bagus, keterbatasan resource dan kesempatan ini mengajarkan orang untuk bertarung supaya survive untuk hidupnya, sodok sana sini tidak berbudaya, itu merupakan natural instict. Kejadian seperti ini terlihat tidak hanya di Indonesia, tapi di negara negara miskin yang saya kunjungi, dimana jumlah manusia banyak dan kesempatan itu sedikit. Mainlanda China di Shekou, India, Bangladesh, Pakistan, itu sekedar contoh.

  8.   Budi Rahardjo Says:

    Sebetulnya “keterbatasan resource” kan sama di negara lain juga ya? Hanya perasaan kita saja bahwa kita nggak bakal kebagian kalau nggak nyodok. Inilah yang harus kita benahi.

    Sebetulnya ini bisa dilakukan. Asal mau, pasti bisa.

    Saya ambil contoh soal pakai safety belt (di mobil) dan pakai helm (untuk pengendara motor). Kalau dulu, jaman saya masih suka naik motor gak ada yang namanya helm. Sekarang, kebalik. Orang yang pakai helm adalah yang normal. Yang nggak pakai helm adalah yang anomali (sok jago). Jadi bisa! Kalau yang ini pendekatannya adalah dengan aturan dan hukuman yang diterapkan. Nah, kalau ngantri gimana? Apa bisa diterapkan kalau yang nyelonong didenda? he he he

  9.   wikan Says:

    menurut saya ini gara2 orang indonesia merasa paling sok penting sedunia, paling sok sibuk, dll. contohnya ya masalah antri itu. saya sibuk nih … saya duluan dong, orang lain belakangan deh. di jalan juga sama saja, orang nggak mau ngalah ngasih jalan, penginnya ngebut, cepet sampe. kalau di sini (jerman) di prapatan yang nggak ada lampu merahnya mobil bisa ngasih jalan ke pejalan kaki atau mobil lain yang melintang, kalau di indo? boro2 … kalau ada pejalan kaki berani lewat langsung dihajar, kalau ada mobil lain yang mau lewat juga dihajar …