Masalah Buku Teks
by Budi RahardjoSaya masih bingung soal penggunaan buku teks untuk kuliah yang saya ajarkan. Ada beberapa pertanyaan yang belum bisa saya jawab. Mari kita bahas permasalahan yang saya hadapi, yang kemungkinan besar dihadapi oleh dosen lain.
Dalam memilih buku teks yang digunakan untuk sebuah kuliah (bila saya diperkenankan untuk menentukan buku teksnya), biasanya saya melihat kuliah yang serupa di luar negeri. Untungnya Internet memungkinkan saya untuk melihat informasi mengenai kuliah di perguruan tinggi lain di luar negeri. Saya lakukan survey buku teks yang paling banyak digunakan dan juga review (terkadang debat) mengenai buku teks tersebut. Biasanya muncul satu atau dua buku yang dijadikan “standar.” Sebagai contoh, kalau di kuliah compiler construction biasanya buku “Dragon” (buku yang bergambar naga) karangan Aho dan kawan-kawan menjadi buku standar. Buku tersebut saya jadikan buku teks di kuliah saya.
Alasan saya memilih buku yang sama dengan perguruan tinggi di luar negeri adalah agar mahasiswa saya juga sama standarnya dengan mahasiswa lain di luar negeri. Ketika mereka nanti melanjutkan S2/S3 di luar negeri maka mereka tidak minder atau berbeda dengan mahasiswa lokal di sana karena buku teksnya sama. Itu juga yang saya alami ketika mengambil pasca sarjana di luar negeri. Buku teks yang saya pakai di ITB waktu S1 dulu ternyata sama dengan yang dipakai di Canada. Jadi lebih mudah bagi saya untuk menyesuaikan diri.
Saya juga tetap mengajurkan mahasiswa untuk menggunakan buku teks tersebut dalam Bahasa Inggris, bukan terjemahannya. Alasannya juga sama. Beberapa buku yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ternyata lebih sulit dibaca karena maknanya menjadi hilang dan terlalu banyak istilah Indonesia yang “tidak standar” sehingga manfaat penggunaan buku teks yang sama menjadi hilang atau berkurang. Jika “steady state” diterjemahkan menjadi “tunak” maka mereka akan bingung jika berdiskusi dengan rekannya yang menggunakan Bahasa Inggris. (Saya pernah punya pengalaman buruk karena menggunakan kata “sinus” ketika menerangkan “sine wave“. Sinus di Bahasa Inggris artinya sakit kepala di pelipis. ha ha ha.) Lagi pula bidang ilmu saya lebih banyak istilah-istilah yang menyulitkan kalau diterjemahkan. Jadi lebih baik buku teks tetap menggunakan Bahasa Inggris.
Namun pemilihan buku teks seperti yang saya inginkan ini ternyata membawa masalah baru, yaitu bagaimana mahasiswa saya bisa memperoleh buku tersebut dengan harga yang terjangkau? Tidak mungkin bagi mahasiswa saya untuk membeli buku teks seharga US$50. Di Indonesia belum ada penerbit yang berusaha untuk bekerjasama dengan penerbit luar negeri dalam menerbitkan buku yang sama untuk pasar Indonesia.
Apa alternatif solusinya?
Pertama, buku difotocopy. Aduh. Saya tidak suka dengan pendekatan ini karena nanti kita dianggap sebagai negara yang tidak menghargai HaKI. Solusi ini yang banyak diambil. Atau dengan kata lain, para pengajar tutup mata kalau melihat mahasiswa membuat fotocopy dari buku teks tersebut.
Alternatif kedua adalah menterjemahkan buku teks tersebut. Namun artinya tujuan saya untuk tetap menggunakan Bahasa Inggris menjadi buyar. Meskipun proses penterjemahan membutuhkan waktu, alternatif ini dapat dilakukan.
Alternatif ketiga, bekerjasama dengan penerbit aslinya untuk membuat versi yang dijual di Indonesia dengan harga yang lebih murah. Ini alternatif solusi yang paling elegan. Solusi ini yang saya lihat dilakukan di India. Biasanya ada buku “versi internasional” dengan kertas yang lebih tipis dan agak kekuning-kuningan sehingga kelihatan seperti buku yang lusuh, tapi sebetulnya tidak masalah karena yang penting kan isinya. Sayangnya alternatif ini belum ada yang memulai dan saya tidak memiliki koneksi untuk melakukan hal ini. (Ada yang berminat?)
Alternatif keempat, membeli buku dan menyimpannya di perpustakaan untuk dipinjam mahasiswa. Alternatif ini hanya cocok untuk jumlah mahasiswa yang sedikit. Kelas yang saya ajar (kadang paralel dengan dosen lain) bisa mencapai 200 orang. Alternatif ini tidak bisa digunakan di kuliah saya.
Apa ada alternatif lainnya? Bagaimana pendapat Anda? Saya yakin ini bukan masalah saya sendirian, tapi masalah banyak dosen. Apakah tidak ada yang tertarik untuk memecahkan masalah ini? Tutup mata saja?
May 3rd, 2006 at 7:45 am
Pak Budi,
Kadangkala di buku teks asli ada CD-ROM yg memuat isi buku (full text) dalam format pdf. Atau mungkin buku tsb dapat dibeli online dengan cara mendownload filenya. File ini kemudian dibuat agar bisa dibaca on-line (di website Pak Budi) untuk mahasiswa yg mengambil matakuliah yg Pak Budi ajarkan.
Pendekatan ini mirip dengan alternatif keempat di tulisan Pak Budi. Mungkin saja mahasiswa lalu mengeprint file tsb (sama halnya seperti mereka memfotokopi buku yg Pak Budi sediakan di perpustakaan) yg pada akhirnya berhubungan dengan masalah hak cipta. Mungkinkah dibuat agar file tsb tidak bisa didownload oleh mahasiswa?
Tapi setidaknya pada saat yg bersamaan buku tsb (yaitu filenya) dapat diakses oleh beberapa mahasiswa sekaligus.
Just my 2 cents.
Wassalam,
May 3rd, 2006 at 7:48 am
itu juga masalah saya sebagai mahasiswa. kalau saya sih akhirnya melakukan alternatif yang pertama, fotokopi. soalnya mau beli juga belum mampu, sedangkan saya membutuhkannya untuk belajar. saya juga mengharapkan adanya buku-buku murah seperti di india.
May 3rd, 2006 at 7:54 am
Saya setuju sekali dengan pemikiran Pak Budi. Kalau di prodi saya sampai terakhir 2 tahun lalu yang saya lihat sih masih mengacu ke Diktat atau Buku Ajar. Jadi dosen diharapkan membuat buku ajar untuk setiap mata kuliahnya, yang merupakan ramuan dari berbagai literatur. Ini jauh lebih sulit dan memakan waktu daripada sekedar menerjemahkan sebuah buku teks. Buku ajar tsb. bisa diterbitkan oleh Penerbit ITB, sehingga dosen juga akan mendapatkan “kum” dengan membuat buku ajar ini, dan kum tsb. ternyata cukup besar. Tapi bagi Pak Budi barangkali kum ini gak ada efeknya khan…he..he..he…maaf.
Tapi buku ajar saja jelas tidak cukup, harus ditunjang oleh buku2 teks asli yang menjadi referensinya (seperti pendekatan yang di luar negeri). Di pemikiran saya sampai saat ini masih belum ada pilihan lain selain membolehkan foto kopi buku tsb. untuk mahasiswa karena jelas kalau beli aslinya akan mahal di ongkos. Tapi barangkali fotokopinya tidak sekaligus sekali waktu, melainkan per bab atau per pokok bahasan, jadi kesannya tidak menjiplak all content he..he..he..karena saya yakin di ITB masih banyak juga dosen yang hanya punya fotokopi buku teks daripada aslinya (meski gak semua buku teks lho).
Sebaliknya di Jepang, tempat saya belajar sekarang, susah sekali kita mendapatkan buku teks versi Bhs. Inggris di toko2 buku, yang ada adalah semua buku terbitan Jepang dan barangkali banyak juga yang hasil terjemahan dari Bhs. Inggris. Jadi kalau perlu buku teks asli mau gak mau ya lari ke perpustakaan pusat atau kalau tidak ada ya pesan sendiri buku teks aslinya lewat koperasi (seringkali kalau sensei setuju, maka dia yang belikan, tapi nantinya buku tsb. untuk koleksi lab, kita hanya dipinjamin). Mumpung di luar negeri, saya berharap mencicil beli buku2 teks asli sedikit demi sedikit untuk modal mengajar atau menyusun buku ajar nantinya kalau saya kembali ke ITB. Karena kalau harus pesan selagi di ITB sepertinya kok agak berat gitu lho.
Demikian Pak sharing dari saya, makasih atas atensinya.
May 3rd, 2006 at 8:43 am
saya coba komentari satu2 ya pak
1. Buku difotokopi … kalau saya lihat di tempat saya (Jerman) lazim juga buku difotokopi, meskipun
nggak kayak di indonesia yang difotokopi utuh satu buku, malah sampe dijilid hardcover segala.
Biasanya motokopinya per bab atau bagian yang penting2 saja (kan tidak semua isi satu buku
diajarkan semua)
2. Menerjemahkan buku … hmm, kalau di sini dosennya bikin buku sendiri. Jadi alih2 mahasiswa disu-
ruh beli buku, mereka naruh draft bukunya di website supaya bisa diakses oleh mahasiswa. Terserah
mahasiswa mau baca versi softnya atau mau diprint. Ada juga dosen yang ngasih slide materinya
secara online. Jadi dia cuman ngasih point2 penting di slidenya itu, mahasiswa tetep harus ngikutin
kuliah untuk mengetahui penjelasan lebih lanjut tentang point2 tersebut. Jadi kalau Pak Budi gak
suka menerjemahkan buku, bisa saja bikin point2 tetep dalam bahasa Inggris. Beberapa buku
malah ngasih slidenya sekalian secara online yang bisa dipake buat ngajar.
3. Buku murah … kalau di sini gak ada. Semua bukunya versi aslinya, bukan versi murahnya.
Saya juga gak tahu untuk urusan gitu musti lobby siapa. Musti ada goodwill dari pemerintah.
Lha wong sekarang aja harga kertas semakin naik kok. Kalau pemerintah mau menurunkan
harga kertas buat pendidikan, rasanya harga2 buku nggak perlu semahal sekarang.
4. Buku yang ada di perpus … kalau di sini sih gak ada masalah. Bukunya cukup dan selalu
available. Yah kadang emang harus menunggu atau “berebut” kalau kebetulan yang butuh
pas banyak. Kalau mau menyediakan buku di perpus dalam jumlah banyak, perpusnya juga
perlu modal deh.
Demikian komen dari saya. Semoga bermanfaat dan maaf kalau ada kekhilafan. salam
May 3rd, 2006 at 9:43 am
Pak Budi yth.,
yang terpikir saat ini adalah bagaimana kalau bukunya ditempatkan dalam e-libnya pak Budi. (Tapi tentunya seizin penerbit). Hanya saja pak Budi jadi harus beli dua buku, satu hard cover, satunya versi e-book.
Qam.
May 3rd, 2006 at 11:04 am
Untuk sementara saya pribadi ambil alternatif pertama pak. Meski dibilang apapun oleh orang-orang, melanggar haki lah, dosa lah. Selama belum ada cara yang lebih efisien untuk ukuran kantong saya (mahasiswa) yang notabene masih nebeng ama ortu. Kalau disuruh beli yang asli selain susah nyarinya di Indonesia, harganya mahal, trus kalau harus pesan lewat internet lebih susah lagi prosedurnya (harus punya credit card lah, pakai dolar lah, fiuhh !!!).
+1 for toko Du*** Ba** di bandung :p. Tapi sayang ga’ lengkap untuk buku Informatika.