<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Masalah Buku Teks</title>
	<atom:link href="http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/</link>
	<description>Class Discussions (in Bahasa Indonesia)</description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 May 2008 03:43:22 -0400</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: weedodo</title>
		<link>http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/comment-page-1/#comment-26</link>
		<dc:creator>weedodo</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 May 2006 04:04:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/#comment-26</guid>
		<description>Untuk sementara saya pribadi ambil alternatif pertama pak. Meski dibilang apapun oleh orang-orang, melanggar haki lah, dosa lah. Selama belum ada cara yang lebih efisien untuk ukuran kantong saya (mahasiswa) yang notabene masih nebeng ama ortu. Kalau disuruh beli yang asli selain susah nyarinya di Indonesia, harganya mahal, trus kalau harus pesan lewat internet lebih susah lagi prosedurnya (harus punya credit card lah, pakai dolar lah, fiuhh !!!).

+1 for toko Du*** Ba** di bandung :p. Tapi sayang ga&#039; lengkap untuk buku Informatika.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk sementara saya pribadi ambil alternatif pertama pak. Meski dibilang apapun oleh orang-orang, melanggar haki lah, dosa lah. Selama belum ada cara yang lebih efisien untuk ukuran kantong saya (mahasiswa) yang notabene masih nebeng ama ortu. Kalau disuruh beli yang asli selain susah nyarinya di Indonesia, harganya mahal, trus kalau harus pesan lewat internet lebih susah lagi prosedurnya (harus punya credit card lah, pakai dolar lah, fiuhh !!!).</p>
<p>+1 for toko Du*** Ba** di bandung :p. Tapi sayang ga&#8217; lengkap untuk buku Informatika.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Qamaruzzaman</title>
		<link>http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/comment-page-1/#comment-25</link>
		<dc:creator>Qamaruzzaman</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 May 2006 02:43:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/#comment-25</guid>
		<description>Pak Budi yth.,
yang terpikir saat ini adalah bagaimana kalau bukunya ditempatkan dalam e-libnya pak Budi. (Tapi tentunya seizin penerbit). Hanya saja pak Budi jadi harus beli dua buku, satu hard cover, satunya versi e-book. 
Qam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Budi yth.,<br />
yang terpikir saat ini adalah bagaimana kalau bukunya ditempatkan dalam e-libnya pak Budi. (Tapi tentunya seizin penerbit). Hanya saja pak Budi jadi harus beli dua buku, satu hard cover, satunya versi e-book.<br />
Qam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: wikan</title>
		<link>http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/comment-page-1/#comment-22</link>
		<dc:creator>wikan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 May 2006 01:43:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/#comment-22</guid>
		<description>saya coba komentari satu2 ya pak
1. Buku difotokopi ... kalau saya lihat di tempat saya (Jerman) lazim juga buku difotokopi, meskipun
    nggak kayak di indonesia yang difotokopi utuh satu buku, malah sampe dijilid hardcover segala.
    Biasanya motokopinya per bab atau bagian yang penting2 saja (kan tidak semua isi satu buku
    diajarkan semua)
2. Menerjemahkan buku ... hmm, kalau di sini dosennya bikin buku sendiri. Jadi alih2 mahasiswa disu-
    ruh beli buku, mereka naruh draft bukunya di website supaya bisa diakses oleh mahasiswa. Terserah
    mahasiswa mau baca versi softnya atau mau diprint. Ada juga dosen yang ngasih slide materinya
    secara online. Jadi dia cuman ngasih point2 penting di slidenya itu, mahasiswa tetep harus ngikutin
    kuliah untuk mengetahui penjelasan lebih lanjut tentang point2 tersebut. Jadi kalau Pak Budi gak
    suka menerjemahkan buku, bisa saja bikin point2 tetep dalam bahasa Inggris. Beberapa buku
    malah ngasih slidenya sekalian secara online yang bisa dipake buat ngajar.
3. Buku murah ... kalau di sini gak ada. Semua bukunya versi aslinya, bukan versi murahnya.
    Saya juga gak tahu untuk urusan gitu musti lobby siapa. Musti ada goodwill dari pemerintah.
    Lha wong sekarang aja harga kertas semakin naik kok. Kalau pemerintah mau menurunkan
    harga kertas buat pendidikan, rasanya harga2 buku nggak perlu semahal sekarang.
4. Buku yang ada di perpus ... kalau di sini sih gak ada masalah. Bukunya cukup dan selalu
    available. Yah kadang emang harus menunggu atau &quot;berebut&quot; kalau kebetulan yang butuh
    pas banyak. Kalau mau menyediakan buku di perpus dalam jumlah banyak, perpusnya juga
    perlu modal deh.

Demikian komen dari saya. Semoga bermanfaat dan maaf kalau ada kekhilafan. salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya coba komentari satu2 ya pak<br />
1. Buku difotokopi &#8230; kalau saya lihat di tempat saya (Jerman) lazim juga buku difotokopi, meskipun<br />
    nggak kayak di indonesia yang difotokopi utuh satu buku, malah sampe dijilid hardcover segala.<br />
    Biasanya motokopinya per bab atau bagian yang penting2 saja (kan tidak semua isi satu buku<br />
    diajarkan semua)<br />
2. Menerjemahkan buku &#8230; hmm, kalau di sini dosennya bikin buku sendiri. Jadi alih2 mahasiswa disu-<br />
    ruh beli buku, mereka naruh draft bukunya di website supaya bisa diakses oleh mahasiswa. Terserah<br />
    mahasiswa mau baca versi softnya atau mau diprint. Ada juga dosen yang ngasih slide materinya<br />
    secara online. Jadi dia cuman ngasih point2 penting di slidenya itu, mahasiswa tetep harus ngikutin<br />
    kuliah untuk mengetahui penjelasan lebih lanjut tentang point2 tersebut. Jadi kalau Pak Budi gak<br />
    suka menerjemahkan buku, bisa saja bikin point2 tetep dalam bahasa Inggris. Beberapa buku<br />
    malah ngasih slidenya sekalian secara online yang bisa dipake buat ngajar.<br />
3. Buku murah &#8230; kalau di sini gak ada. Semua bukunya versi aslinya, bukan versi murahnya.<br />
    Saya juga gak tahu untuk urusan gitu musti lobby siapa. Musti ada goodwill dari pemerintah.<br />
    Lha wong sekarang aja harga kertas semakin naik kok. Kalau pemerintah mau menurunkan<br />
    harga kertas buat pendidikan, rasanya harga2 buku nggak perlu semahal sekarang.<br />
4. Buku yang ada di perpus &#8230; kalau di sini sih gak ada masalah. Bukunya cukup dan selalu<br />
    available. Yah kadang emang harus menunggu atau &#8220;berebut&#8221; kalau kebetulan yang butuh<br />
    pas banyak. Kalau mau menyediakan buku di perpus dalam jumlah banyak, perpusnya juga<br />
    perlu modal deh.</p>
<p>Demikian komen dari saya. Semoga bermanfaat dan maaf kalau ada kekhilafan. salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nur Heriawan</title>
		<link>http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/comment-page-1/#comment-21</link>
		<dc:creator>Nur Heriawan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 May 2006 00:54:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/#comment-21</guid>
		<description>Saya setuju sekali dengan pemikiran Pak Budi. Kalau di prodi saya sampai terakhir 2 tahun lalu yang saya lihat sih masih mengacu ke Diktat atau Buku Ajar. Jadi dosen diharapkan membuat buku ajar untuk setiap mata kuliahnya, yang merupakan ramuan dari berbagai literatur. Ini jauh lebih sulit dan memakan waktu daripada sekedar menerjemahkan sebuah buku teks. Buku ajar tsb. bisa diterbitkan oleh Penerbit ITB, sehingga dosen juga akan mendapatkan &quot;kum&quot; dengan membuat buku ajar ini, dan kum tsb. ternyata cukup besar. Tapi bagi Pak Budi barangkali kum ini gak ada efeknya khan...he..he..he...maaf. 

Tapi buku ajar saja jelas tidak cukup, harus ditunjang oleh buku2 teks asli yang menjadi referensinya (seperti pendekatan yang di luar negeri). Di pemikiran saya sampai saat ini masih belum ada pilihan lain selain membolehkan foto kopi buku tsb. untuk mahasiswa karena jelas kalau beli aslinya akan mahal di ongkos. Tapi barangkali fotokopinya tidak sekaligus sekali waktu, melainkan per bab atau per pokok bahasan, jadi kesannya tidak menjiplak all content he..he..he..karena saya yakin di ITB masih banyak juga dosen yang hanya punya fotokopi buku teks daripada aslinya (meski gak semua buku teks lho).

Sebaliknya di Jepang, tempat saya belajar sekarang, susah sekali kita mendapatkan buku teks versi Bhs. Inggris di toko2 buku, yang ada adalah semua buku terbitan Jepang dan barangkali banyak juga yang hasil terjemahan dari Bhs. Inggris. Jadi kalau perlu buku teks asli mau gak mau ya lari ke perpustakaan pusat atau kalau tidak ada ya pesan sendiri buku teks aslinya lewat koperasi (seringkali kalau sensei setuju, maka dia yang belikan, tapi nantinya buku tsb. untuk koleksi lab, kita hanya dipinjamin). Mumpung di luar negeri, saya berharap mencicil beli buku2 teks asli sedikit demi sedikit untuk modal mengajar atau menyusun buku ajar nantinya kalau saya kembali ke ITB. Karena kalau harus pesan selagi di ITB sepertinya kok agak berat gitu lho. 

Demikian Pak sharing dari saya, makasih atas atensinya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya setuju sekali dengan pemikiran Pak Budi. Kalau di prodi saya sampai terakhir 2 tahun lalu yang saya lihat sih masih mengacu ke Diktat atau Buku Ajar. Jadi dosen diharapkan membuat buku ajar untuk setiap mata kuliahnya, yang merupakan ramuan dari berbagai literatur. Ini jauh lebih sulit dan memakan waktu daripada sekedar menerjemahkan sebuah buku teks. Buku ajar tsb. bisa diterbitkan oleh Penerbit ITB, sehingga dosen juga akan mendapatkan &#8220;kum&#8221; dengan membuat buku ajar ini, dan kum tsb. ternyata cukup besar. Tapi bagi Pak Budi barangkali kum ini gak ada efeknya khan&#8230;he..he..he&#8230;maaf. </p>
<p>Tapi buku ajar saja jelas tidak cukup, harus ditunjang oleh buku2 teks asli yang menjadi referensinya (seperti pendekatan yang di luar negeri). Di pemikiran saya sampai saat ini masih belum ada pilihan lain selain membolehkan foto kopi buku tsb. untuk mahasiswa karena jelas kalau beli aslinya akan mahal di ongkos. Tapi barangkali fotokopinya tidak sekaligus sekali waktu, melainkan per bab atau per pokok bahasan, jadi kesannya tidak menjiplak all content he..he..he..karena saya yakin di ITB masih banyak juga dosen yang hanya punya fotokopi buku teks daripada aslinya (meski gak semua buku teks lho).</p>
<p>Sebaliknya di Jepang, tempat saya belajar sekarang, susah sekali kita mendapatkan buku teks versi Bhs. Inggris di toko2 buku, yang ada adalah semua buku terbitan Jepang dan barangkali banyak juga yang hasil terjemahan dari Bhs. Inggris. Jadi kalau perlu buku teks asli mau gak mau ya lari ke perpustakaan pusat atau kalau tidak ada ya pesan sendiri buku teks aslinya lewat koperasi (seringkali kalau sensei setuju, maka dia yang belikan, tapi nantinya buku tsb. untuk koleksi lab, kita hanya dipinjamin). Mumpung di luar negeri, saya berharap mencicil beli buku2 teks asli sedikit demi sedikit untuk modal mengajar atau menyusun buku ajar nantinya kalau saya kembali ke ITB. Karena kalau harus pesan selagi di ITB sepertinya kok agak berat gitu lho. </p>
<p>Demikian Pak sharing dari saya, makasih atas atensinya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: aldi</title>
		<link>http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/comment-page-1/#comment-20</link>
		<dc:creator>aldi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 May 2006 00:48:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/#comment-20</guid>
		<description>itu juga masalah saya sebagai mahasiswa. kalau saya sih akhirnya melakukan alternatif yang pertama, fotokopi. soalnya mau beli juga belum mampu, sedangkan saya membutuhkannya untuk belajar. saya juga mengharapkan adanya buku-buku murah seperti di india.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>itu juga masalah saya sebagai mahasiswa. kalau saya sih akhirnya melakukan alternatif yang pertama, fotokopi. soalnya mau beli juga belum mampu, sedangkan saya membutuhkannya untuk belajar. saya juga mengharapkan adanya buku-buku murah seperti di india.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nurcahyo Basuki</title>
		<link>http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/comment-page-1/#comment-19</link>
		<dc:creator>Nurcahyo Basuki</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 May 2006 00:45:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budi.edublogs.org/2006/05/02/masalah-buku-teks/#comment-19</guid>
		<description>Pak Budi,
Kadangkala di buku teks asli ada CD-ROM yg memuat isi buku (full text) dalam format pdf. Atau mungkin buku tsb dapat dibeli online dengan cara mendownload filenya. File ini kemudian dibuat agar bisa dibaca on-line (di website Pak Budi) untuk mahasiswa yg mengambil matakuliah yg Pak Budi ajarkan. 

Pendekatan ini mirip dengan alternatif keempat di tulisan Pak Budi. Mungkin saja mahasiswa lalu mengeprint file tsb (sama halnya seperti mereka memfotokopi buku yg Pak Budi sediakan di perpustakaan) yg pada akhirnya berhubungan dengan masalah hak cipta. Mungkinkah dibuat agar file tsb tidak bisa didownload oleh mahasiswa?

Tapi setidaknya pada saat yg bersamaan buku tsb (yaitu filenya) dapat diakses oleh beberapa mahasiswa sekaligus.

Just my 2 cents.

Wassalam,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Budi,<br />
Kadangkala di buku teks asli ada CD-ROM yg memuat isi buku (full text) dalam format pdf. Atau mungkin buku tsb dapat dibeli online dengan cara mendownload filenya. File ini kemudian dibuat agar bisa dibaca on-line (di website Pak Budi) untuk mahasiswa yg mengambil matakuliah yg Pak Budi ajarkan. </p>
<p>Pendekatan ini mirip dengan alternatif keempat di tulisan Pak Budi. Mungkin saja mahasiswa lalu mengeprint file tsb (sama halnya seperti mereka memfotokopi buku yg Pak Budi sediakan di perpustakaan) yg pada akhirnya berhubungan dengan masalah hak cipta. Mungkinkah dibuat agar file tsb tidak bisa didownload oleh mahasiswa?</p>
<p>Tapi setidaknya pada saat yg bersamaan buku tsb (yaitu filenya) dapat diakses oleh beberapa mahasiswa sekaligus.</p>
<p>Just my 2 cents.</p>
<p>Wassalam,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>