BR school (of thought)

Class Discussions (in Bahasa Indonesia)

Archive for the 'Pendidikan' Category

02
May
2006

Masalah Buku Teks

by Budi Rahardjo

Saya masih bingung soal penggunaan buku teks untuk kuliah yang saya ajarkan. Ada beberapa pertanyaan yang belum bisa saya jawab. Mari kita bahas permasalahan yang saya hadapi, yang kemungkinan besar dihadapi oleh dosen lain.

Dalam memilih buku teks yang digunakan untuk sebuah kuliah (bila saya diperkenankan untuk menentukan buku teksnya), biasanya saya melihat kuliah yang serupa di luar negeri. Untungnya Internet memungkinkan saya untuk melihat informasi mengenai kuliah di perguruan tinggi lain di luar negeri. Saya lakukan survey buku teks yang paling banyak digunakan dan juga review (terkadang debat) mengenai buku teks tersebut. Biasanya muncul satu atau dua buku yang dijadikan “standar.” Sebagai contoh, kalau di kuliah compiler construction biasanya buku “Dragon” (buku yang bergambar naga) karangan Aho dan kawan-kawan menjadi buku standar. Buku tersebut saya jadikan buku teks di kuliah saya.

Alasan saya memilih buku yang sama dengan perguruan tinggi di luar negeri adalah agar mahasiswa saya juga sama standarnya dengan mahasiswa lain di luar negeri. Ketika mereka nanti melanjutkan S2/S3 di luar negeri maka mereka tidak minder atau berbeda dengan mahasiswa lokal di sana karena buku teksnya sama. Itu juga yang saya alami ketika mengambil pasca sarjana di luar negeri. Buku teks yang saya pakai di ITB waktu S1 dulu ternyata sama dengan yang dipakai di Canada. Jadi lebih mudah bagi saya untuk menyesuaikan diri.

Saya juga tetap mengajurkan mahasiswa untuk menggunakan buku teks tersebut dalam Bahasa Inggris, bukan terjemahannya. Alasannya juga sama. Beberapa buku yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ternyata lebih sulit dibaca karena maknanya menjadi hilang dan terlalu banyak istilah Indonesia yang “tidak standar” sehingga manfaat penggunaan buku teks yang sama menjadi hilang atau berkurang. Jika “steady state” diterjemahkan menjadi “tunak” maka mereka akan bingung jika berdiskusi dengan rekannya yang menggunakan Bahasa Inggris. (Saya pernah punya pengalaman buruk karena menggunakan kata “sinus” ketika menerangkan “sine wave“. Sinus di Bahasa Inggris artinya sakit kepala di pelipis. ha ha ha.) Lagi pula bidang ilmu saya lebih banyak istilah-istilah yang menyulitkan kalau diterjemahkan. Jadi lebih baik buku teks tetap menggunakan Bahasa Inggris.

Namun pemilihan buku teks seperti yang saya inginkan ini ternyata membawa masalah baru, yaitu bagaimana mahasiswa saya bisa memperoleh buku tersebut dengan harga yang terjangkau? Tidak mungkin bagi mahasiswa saya untuk membeli buku teks seharga US$50. Di Indonesia belum ada penerbit yang berusaha untuk bekerjasama dengan penerbit luar negeri dalam menerbitkan buku yang sama untuk pasar Indonesia.

Apa alternatif solusinya?

Pertama, buku difotocopy. Aduh. Saya tidak suka dengan pendekatan ini karena nanti kita dianggap sebagai negara yang tidak menghargai HaKI. Solusi ini yang banyak diambil. Atau dengan kata lain, para pengajar tutup mata kalau melihat mahasiswa membuat fotocopy dari buku teks tersebut.

Alternatif kedua adalah menterjemahkan buku teks tersebut. Namun artinya tujuan saya untuk tetap menggunakan Bahasa Inggris menjadi buyar. Meskipun proses penterjemahan membutuhkan waktu, alternatif ini dapat dilakukan.

Alternatif ketiga, bekerjasama dengan penerbit aslinya untuk membuat versi yang dijual di Indonesia dengan harga yang lebih murah. Ini alternatif solusi yang paling elegan. Solusi ini yang saya lihat dilakukan di India. Biasanya ada buku “versi internasional” dengan kertas yang lebih tipis dan agak kekuning-kuningan sehingga kelihatan seperti buku yang lusuh, tapi sebetulnya tidak masalah karena yang penting kan isinya. Sayangnya alternatif ini belum ada yang memulai dan saya tidak memiliki koneksi untuk melakukan hal ini. (Ada yang berminat?)

Alternatif keempat, membeli buku dan menyimpannya di perpustakaan untuk dipinjam mahasiswa. Alternatif ini hanya cocok untuk jumlah mahasiswa yang sedikit. Kelas yang saya ajar (kadang paralel dengan dosen lain) bisa mencapai 200 orang. Alternatif ini tidak bisa digunakan di kuliah saya.

Apa ada alternatif lainnya? Bagaimana pendapat Anda? Saya yakin ini bukan masalah saya sendirian, tapi masalah banyak dosen. Apakah tidak ada yang tertarik untuk memecahkan masalah ini? Tutup mata saja?

16
Apr
2006

Belajar Antri

by Budi Rahardjo

Salah satu “kebiasaan Barat?” yang melekat di saya adalah kebiasaan antri. Entah kenapa di Indonesia ini orang tidak bisa antri. Padahal dengan antri proses (pembelian tiket, masuk ke ruangan, dan pelayanan lain) bisa berjalan dengan lebih tertib dan cepat. Mungkin karena orang yang antri melihat bahwa menyerobot dibiarkan, tidak dihukum? Lantas mengapa saya harus antri? Begitu alur berpikirnya, mungkin?

Tadi siang kami naik pesawat (dari Batam ke Bandung). Sebelum masuk ke pesawat instruksinya sudah jelas; “Sekarang kami mempersilahkan penumpang baris ke 15 sampai dengan ke 26 untuk masuk pesawat.” Semua orang lantas berbondong-bondong, termasuk baris sebelum 15! Petugas bandara marah dan meminta orang yang belum gilirannya untuk minggir dulu. Mereka, yang berada di baris sebelum baris ke 15 dan tetap mau duluan ini, seperti tidak merasa bersalah! Aneh juga.

Nampaknya kebiasaan antri ini harus diajarkan sejak kecil. Bagaimana pendapat Anda?

05
Apr
2006

Sekolah untuk menghasilkan buruh?

by Budi Rahardjo

Tadi siang saya kena macet di Jakarta. Ada demo tentang UU Perburuhan(?). Yang demo adalah buruh-buruh. Banyak sekali yang demo. Ribuan!

Ini membuat saya teringat kuliah konsep teknologi (kontek) kemarin yang menghadirkan tamu, mas Moko (seorang entrepreneur). Salah satu hal yang dia katakan adalah bahwa ITB itu bisa berarti “Instutut Tukang Buruh”, yaitu menghasilkan buruh-buruh. Jika semua jadi buruh, maka siapa yang memberikan pekerjaan? Dibutuhkan orang yang menjadi entrepreneur yang membuat lapangan pekerjaan. Para entrepreneur ini adalah “bos” bukan “buruh”. Dapatkah ITB berubah menjadi “Institut Teknologi Bos” ???

02
Mar
2006

Update web perkuliahan

by Budi Rahardjo

Baru saja saya update halaman web yang terkait dengan kuliah security saya. Web ini gabungan dari dua kuliah security (EC 5010 dan EC 7010). Silahkan lihat webnya di

http://budi.insan.co.id/courses/security

Desain dan hal-hal lain yang terkait dengan web ini dikerjakan secara manual (termasuk membuat skrip programnya). Mestinya ada tools dan layanan untuk melakukan ini sehingga ide yang sama bisa digunakan oleh dosen-dosen lainnya.

11
Feb
2006

Mengajarkan ilmu & teknologi tinggi kepada anak-anak

by Budi Rahardjo

Di Indonesia, anak-anak biasanya diremehkan. Mereka dianggap sebagai … ya, anak-anak. Mereka dianggap tidak memiliki kemampuan untuk berpikir sehingga semuanya disuapi. Akibatnya, anak-anak menjadi malas dan terbiasa dengan disuapi.

Kita ambil sebuah contoh pengkerdilan anak-anak. Lagu atau musik untuk anak-anak di Indonesia biasanya monoton dengan “artis” anak-anak lagi yang tidak bisa menyanyi akan tetapi dipaksakan oleh orang tuanya (yang notabene artis musik juga). Kalau di luar negeri, lagu anak-anak tidak harus dinyanyikan oleh anak-anak dan memiliki komposisi yang luar biasa. “Sound of Music” menjadi sebuah contoh.

Baru-baru ini saya melihat Nasional Security Agency (NSA), sebuah lembaga yang ditakuti karena terlalu banyak terlibat dengan penyadapan data di Amerika. Dikatakan bahwa kalau ada komputer yang terhebat di dunia, maka NSA memilikinya. Demikian pula jika dikatakan ada ahli matematika, maka NSA memiliki ahli matematika yang sangat banyak untuk membuat dan memecahkan sandi. Kriptografi merupakan sebuah bidang yang penuh matematik. Untuk mendapatkan talenta yang bagus mereka sudah menyiapkan program untuk anak-anak.

CryptoKids merupakan salah satu upaya Amerika untuk menyiapkan generasi mudanya agar dapat lebih menerima apa-apa yang dikerjakan oleh NSA (termasuk di dalamnya adalah penyadapan data yang sangat ditentang oleh warga Amerika) dan juga membuat anak-anak lebih mengetahui kriptografi sehingga di kemudian hari Amerika akan memiliki stok talenta yang dibutuhkan bagi keamanan negaranya. Luar biasa.

Apakah cara ini akan berhasil? Saya yakin, ya. Ada sebuah cerita mengenai seorang pakar kriptografi (W. Diffie) yang tertarik kepada kriptografi sewaktu guru SD-nya memberikan buku kriptografi for kids. Saya pun memiliki buku “Crack the Code: Secret Messages to Make and Break” karangan K. Woodward yang diperuntukan kepada anak-anak dan ABG.

Sayangnya di Indonesia belum ada upaya untuk melakukan hal tersebut. Saya sendiri mencoba membawa anak-anak SMA untuk melihat proses mikroelektronika (melihat IC, chip, dan produk yang terkait). Sayangnya upaya ini belum terlalu sering saya lakukan karena kesibukan yang saya miliki. Tapi, saya yakin bahwa anak-anak kita perlu kita kenalkan dengan ilmu dan teknologi tinggi dari sejak kecil sehingga ketika mereka berkembang, mereka sudah tidak merasa takut dengan ilmu dan teknologi tersebut. Semoga.

Link terkait, CryptoKids: http://www.nsa.gov/kids/

29
Jan
2006

Kutipan hari ini (Quote of the day)

by Budi Rahardjo

Strange at it seems, no amount of learning can cure stupidity, and formal education positively fortifies it.

(Stephen Vizinczey)

16
Jan
2006

Mengajarkan Kebersihan

by Budi Rahardjo

Sampah

Bagaimana mengajarkan kebersihan?

Gambar di samping ini menunjukkan bekas makan pada sebuah acara. Piring, gelas, kertas tisu, dan lain-lain dibiarkan berantakan. Mengapa yang bersangkutan tidak meletakkannya di tempat yang mudah dibersihkan? Mungkin yang bersangkutan juga tidak salah karena tidak disediakan tempat untuk menyimpannya. Jika demikian, maka yang menyelenggarakan acaralah yang salah.

Inti yang ingin saya sampaikan adalah kebersihan perlu diajarkan sehingga menjadi bagian dari kebiasaan kita sehari-hari. Kita tidak dapat beranggapan bahwa orang langsung mengerti. Ada kalanya orang lupa, atau memang tidak tahu.

Ayo kita ajarkan dan contohkan kebersihan.